November 19, 2008

KARAKTERISTIK SYARIAT

Kekal, Universal dan Komprehensif

Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr

Syariat ini, yang Alloh mengutus Muhammad, Rasul-Nya yang mulia dengannya, memiliki tiga karakteristik, yaitu al-Baqo’ (kekal), al-‘Umum (niversal/menyeluruh) dan al-Kamal (komprehensif/sempurna). Syariat ini akan senantiasa langgeng/kekal sampai hari kiamat. Alloh Azza wa Jalla berfirman :

((مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ))

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. “ (QS al-Ahzaab : 40)

Imam Bukhari (71) dan Muslim (1037) meriwayatkan dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu yang berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

من يُرد الله به خيراً يفقهه في الدِّين، وإنَّما أنا قاسمٌ والله يُعطي، ولن تزال هذه الأمَّةُ قائمةً على أمر الله، لا يضرُّهم من خالفهم حتى يأتي أمر الله

“Barangsiapa yang Alloh mengendaki kebaikan atasnya, maka ia akan memahamkannya di dalam agama. Sesungguhnya saya ini hanyalah seorang qoosim (pembagi) dan Alloh-lah yang memberi. Umat ini akan senantiasa menegakkan perintah Alloh, tidaklah mencederai mereka orang-orang yang menyelisihi mereka, sampai datangnya hari kiamat.”

Syariat ini universal mencakup Jin dan Manusia, dan mereka umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah umat dakwah. Karena sesungguhnya setiap manusia dan jin, dari semenjak diutusnya Nabi sampai hari kiamat kelak, diseru (didakwahi) untuk masuk ke dalam agama yang hanif (lurus) ini, yang Alloh mengutus Nabi-Nya yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengannya. Sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla :

((وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ))

“Allah menyeru ke darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS Yunus : 25)

Di dalam ayat yang mulia ini, ada suatu isyarat (penunjuk) akan adanya umat dakwah dan umat ijabah. Adapun dakwah di dalam firman Alloh :

وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ

“Allah menyeru ke darussalam (surga)”

Yaitu, menyeru setiap orang. Maf’ul (obyek penderita) di dalam ayat ini dimahdzuf (dihilangkan) untuk membuahkan faidah keumuman (universalitas). Adapun ummat ijabah (diisyaratkan) di dalam firman-Nya :

وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”

Karena sesungguhnya orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh kepada jalan yang lurus, mereka adalah orang-orang yang menjawab/menerima (istijab) dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan masuk ke dalam agama-Nya yang hanif dan mereka termasuk kaum muslimin. Sampainya hidayah kepada umat ijabah, sesungguhnya adalah karena keutamaan Alloh dan taufiq-Nya.

Hidayah kepada jalan yang lurus ini, merupakan taufiq bagi orang yang telah Alloh tunjuki, dan tiada seorangpun yang memiliki hidayah seperti ini melainkan hanya Alloh Subhanahu, sebagaimana dalam firman Alloh Azza wa Jalla :

(( إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ))

“Sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS al-Qoshosh : 56)

Adapun Hidayah ad-Dilalah wal Irsyad (prtunjuk dengan menerangkan dan mengarahkan), maka Alloh telah menetapkannya kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam di dalam firman-Nya :

((وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ))

“Dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS asy-Syuura : 52)

Yaitu : menunjukkan dan memberikan pengarahan.

Adapun dalil-dalil yang menunjukkan keuniversalitasan (syumul) dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada semua umat manusia, adalah firman Alloh Azza wa Jalla :

((قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً))

“Katakanlah (wahai Muhammad) : Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semuanya.” (QS al-A’raaf : 158)

Sabda Nabi Shallalahu ‘alaihi wa Salam :

والذي نفسي بيده! لا يسمع بي أحد من هذه الأمَّة يهودي ولا نصراني، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أُرسِلتُ به إلاَّ كان من أصحاب النار

“Demi (Rabb) yang jiwaku berada di tangannya! Tidaklah seorangpun di umat ini yang mendengar tentang diriku, baik ia seorang Nasrani atau Yahudi kemudian meninggal dan tidak mengimani dengan risalah yang aku diutus dengannya, maka ia termasuk penghuni neraka.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahih-nya (153).

Pembenar hal ini terdapat di dalam Kitabullah, sebagaimana penafsiran dari Sa’id bin Jubair rahimahullahu terhadap firman Alloh Azza wa Jalla :

((وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ))

“Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, Maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya.” (QS Huud : 17)

Ibnu Katsir menyebutkan tentangnya di dalam tafsir beliau terhadap ayat dari surat Hud ini.[1]

Diantara dalil-dalil yang menunjukkan keuniversalitasan dakwah Nabi kepada jin adalah firman Alloh Azza wa Jalla :

((وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَراً مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ * قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَاباً أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ * يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ * وَمَن لا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَولِيَاء أُوْلَئِكَ فِي ضَلالٍ مُّبِينٍ))

“Dan (Ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan Telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS al-Ahqaaf : 29-31)

Alloh Azza wa Jalla berfirman di dalam surat ar-Rahman :

((فَبِأَيِّ آلاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ))

“Maka nikmat tuhan kamu manakah kami kamu berdua dustakan?”

Dan ayat ini merupakan khithab (seruan) dari Alloh kepada manusia dan jin, dan ayat ini disebutkan di dalam surat ini sebanyak tiga puluh satu kali.

Di dalam Sunan at-Tirmidzi (3291), dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم على أصحابه فقرأ عليهم سورة الرحمن من أوَّلِها إلى آخرها فسكتوا، فقال: لقد قرأتها على الجنِّ ليلة الجنِّ فكانوا أحسنَ مردوداً منكم؛ كنتُ كلَّما أتيتُ على قوله: ((فَبِأَيِّ آلاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ))، قالوا: لا بشيء من نعمك ربَّنا نكذِّب، فلك الحمد

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam keluar di hadapan para sahabatnya lalu membacakan kepada mereka surat ar-Rahman dari awal hingga akhir ayat sehingga mereka semua terdiam. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Salam berkata : ‘Aku telah membacakan surat ini di hadapan jin pada suatu malam dan mereka adalah makhluk yang paling baik didalam merespon dibandingkan kalian. Aku tiap kali sampai kepada firman Alloh : “Maka nikmat tuhan kamu manakah kami kamu berdua dustakan?”, mereka berseraya mengatakan : tidak ada sedikitpun dari nikmat-nikmat-Mu wahai Rabb kami yang kami dustakan, hanya untuk-Mu-la segala pujian.”

Hadits ini memiliki syaahid (penguat) dari Ibnu ‘Umar yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Lihat takhrij hadits ini di dalam as-Silsilah ash-Shahihah karya al-Albani (2150).

Diantara surat-surat Al-Qur`an adalah surat al-Jin. Alloh telah mengisahkan di dalam ayat ini sejumlah ucapan-ucapan dari bangsa jin.

Adapun karakteristik yang ketiga dari karakteristik syariat ini adalah sifat sempurna (komprehensif). Alloh Azza wa Jalla berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia :

((الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً))

“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maa`idah : 3)

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

تركتكم على مثل البيضاء، ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها إلاَّ هالك

“Aku meninggalkan kepada kalian dalam keadaan putih terang benderang, yang malamnya bagaikan siangnya. Tidaklah ada seorang pun yang berpaling darinya melainkan ia pasti binasa.” Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah (48) dari al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Beliau juga meriwayatkannya (47) dari hadits Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.

Di dalam Shahih Muslim (262) dari Salman beliau berkata :

قيل له: قد علَّمكم نبيُّكم صلى الله عليه وسلم كلَّ شيء حتى الخراءة، قال: فقال: أجل! لقد نهانا أن نستقبل القبلة لغائط أو بول، أو أن نستنجي باليمين، أو أن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار، أو أن نستنجي برجيع أو بعظم

“Orang kafir berkata kepada beliau : Apakah nabimu Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kepadamu segala sesuatunya sampai-sampai juga di dalam masalah buang air? Salman menjawab : Benar sekali! Beliau telah melarang kami dari menghadap kiblat ketika sedang buang air besar atau kecil, atau melarang dari bercebok dengan tangan kanan, atau melarang kami dari bercebok dengan batu yang kurang dari tiga buah, atau melarang kami bercebok dengan kotoran dan tulang belulang.”

Hadits ini menunjukkan akan kesempurnaan syariat dan mencakup semua hal yang diperlukan oleh umat ini, sampai-sampai di dalam masalah buang hajat sekalipun.

Juga di dalam Shahih Muslim (1844), dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

إنَّه لم يكن نبيٌّ قبلي إلاَّ كان حقًّا عليه أن يدلَّ أمَّته على خير ما يعلمه لهم، وينذرهم شرَّ ما يعلمه لهم

“Sesungguhnya belum pernah ada nabi sebelumku, melainkan wajib atasnya untuk menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui.”

Al-Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya (5598) dari Abu al-Juwairiyah beliau berkata :

سألتُ ابنَ عباس عن الباذق، فقال: سبق محمد صلى الله عليه وسلم الباذق، فما أسكر فهو حرام، قال: الشراب الحلال الطيب، قال: ليس بعد الحلال الطيب إلاَّ الحرام الخبيث

“Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas tentang badziq (sebangsa tuak), maka beliau berkata : Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah mendahului (di dalam menjelaskan hukum) badziq ini, (yaitu) segala hal yang memabukkan maka haram hukumnya. Beliau berkata : Minuman itu halal lagi baik. Beliau berkata kembali : Tidak ada lagi setelah sesuatu yang halal lagi baik melainkan sesuatu yang haram lagi buruk.”

Badziq adalah salah satu jenis dari minuman (yang memabukkan, pent.). Hadits ini bermakna bahwa badziq tersebut belum ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Akan tetapi syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah mencakup seluruhnya, baik badziq ataupun selainnya, yang mana hal ini juga tercakup di dalam keumuman sabda Nabi :

ما أسكر فهو حرام

“segala hal yang memabukkan maka haram hukumnya”.

Sesungguhnya, hadits ini menunjukkan keumuman atas setiap yang memabukkan, baik yang ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ataupun yang ada di zaman setelah beliau, baik dalam bentuk cair maupun padat, semua itu haram hukumnya. Adapun sesuatu yang tidak bersifat demikian maka halal hukumnya.

Dapat dikatakan bahwa, menghisap rokok yang hanya ditemui pada dewasa ini, sama (hukumnya) dengan yang dikatakan terhadap badziq, yaitu syariat dengan keumuman sifatnya menunjukkan atas keharamannya. Hal ini juga dijelaskan di dalam firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

((وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ))

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS al-A’raaf : 157)

Rokok itu bukanlah termasuk sesuatu yang baik, bahkan ia merupakan sesuatu yang buruk, oleh karena itu haram hukumnya. Sebagai tambahan pula, rokok itu dapat menyebabkan penyakit yang dapat menghantarkan kepada kematian. Merokok itu membuang-buang harta dan mengganggu manusia dengan bau yang tidak disukai, hal ini semua menunjukkan atas keharaman rokok.

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata :

ترَكَنَا رسول الله صلى الله عليه وسلم وما طائر يطير بجناحيه إلاَّ عندنا منه علم

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meninggalkan kita dan tidaklah seekor burung yang terbang mengepakkan kedua sayapnya melainkan beliau telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Dikeluarkan oleh Abu Hatim Ibnu Hibban di dalam shahih-nya (65), dan beliau berkata :

معنى (عندنا منه) يعني بأوامره ونواهيه وأخباره وأفعاله وإباحته صلى الله عليه وسلم

“Arti ‘telah diterangkan oleh beliau kepada kami’ yaitu menerangkan perintah-perintahnya, larangan-larangannya, berita-beritanya, perbuatan-perbuatannya dan pembolehan-pembolehannya Shallallahu ‘alaihi wa Salam.” Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih Mawarid azh-Zham`aan fi Zawa`idi Ibni Hibban karya al-Haitsami (I/119).

Diantara ilmu yang diterangkan Rasulullah kepada kami tentang seeokor burung, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya (1934) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata :

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن كلِّ ذي ناب من السِّباع، وعن كلِّ ذي مخلب من الطير

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melarang kami memakan setiap yang bertaring dari binatang buas dan setiap yang berkuku (cakar) dari burung.”

Hadits ini menunjukkan atas haramnya memakan setiap burung yang berkuku yang digunakan untuk memangsa.

Hadits ini termasuk Jawami’ Kalim (ucapan yang ringkas namun sarat akan makna, pent.) yang dimiliki Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan hadits ini menjelaskan tentang ahkam (hukum).

Adapun yang menjelaskan tentang akhbar (berita), diantaranya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

لو أنَّكم توكَّلون على الله حقَّ توكله لرزقكم كما يرزق الطير، تغدو خماصاً، وتروح بطاناً

“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Alloh akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Ia memberikan rezeki kepada burung, yang berangkat pagi-pagi dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.” Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan al-Hakim. At-Turmudzi berkata tentangnya : “hasan shahih”. Hadits ini adalah salah satu hadits yang ditambahkan oleh Ibnu Rojab terhadap hadits Arba’in Nawawi.

Imam Ibnul Qoyyim berkata di dalam kitabnya I’laamul Muwaqqi’in (IV/375-376) ketika menerangkan kesempurnaan syariat :

“Dan pokok ini adalah diantara pokok-pokok yang paling urgen dan paling bermanfaat. Pokok ini dibangun di atas satu huruf saja, yaitu keuniversalitasan syariat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang berkaitan dengan setiap perkara, dimana setiap hamba membutuhkannya di dalam pengetahuan, ilmu dan amal mereka. Bahwasanya keuniversalitasan risalah ini menyebabkan ummat sudah tidak butuh lagi kepada seorangpun setelahnya, dan sesungguhnya kebutuhan mereka hanyalah kepada orang yang menyampaikan kepada mereka risalah yang ia bawa.

Risalahnya memiliki dua keuniversalitasan yang terpelihara yang tidak ada celah untuk mengkhususkannya, yaitu universalitas yang berkaitan dengan mereka yang menerima risalah (obyek risalah, pent.) dan universalitas yang berkaitan dengan setiap hal yang diperlukan oleh orang yang diutus (rasul) padanya baik di dalam ushuluddin maupun furu’-nya. Risalahnya adalah risalah yang menyeluruh, memadai dan universal yang tidak membutuhkan risalah lainnya. Keimanan kepada Rasul tidaklah akan sempurna melainkan dengan menetapkan keuniversalitasan risalahnya di dalam segala hal. Seorang mukallaf tidaklah akan bisa keluar dari risalah Rasul dan berbagai bentuk kebenaran yang dibutuhkan oleh umat di dalam ilmu dan amalnya tidaklah bisa keluar dari syariat yang datang kepada Rasul.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah wafat, dan tidak ada seekor burungpun yang terbang mengepakkan kedua sayapnya di angkasa melainkan Rasul telah menyebutkan kepada umat ilmunya, dan beliau telah mengajarkan segala sesuatunya sampai tentang etika buang air, bersetubuh dan tidur, etika berdiri dan duduk, etika makan dan minum, etika naik dan turun dari kendaraan, etika bepergian dan menetap, etika diam dan berbicara, etika bersendiri dan bersosialisasi, etika ketika kaya dan miskin, etika ketika sehat dan sakit dan semua hukum-hukum yang berkaitan dengan hidup dan mati.

Beliau juga menjelaskan tentang sifat Arsy dan Kursi (Alloh), malaikat dan jin, neraka dan surga, hari kiamat dan segala hal di dalamnya, sampai-sampai seakan-akan mata dapat melihatnya. Beliau mengenalkan tentang sesembahan dan tuhan mereka dengan pengenalan yang menyeluruh akan sifat-sifat-Nya yang sempurna dan agung, sampai-sampai seakan-akan mereka dapat melihat dan menyaksikan-Nya. Beliau menceritakan tentang para nabi dan umat mereka serta peristiwa yang terjadi atas mereka, sampai-sampai seakan-akan umat ini berada di tengah-tengah mereka. Beliau menjelaskan jalan-jalan kebaikan dan keburukan secara seksama dan menyeluruh, dimana para nabi sebelumnya belum pernah menjelaskannya kepada umatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kepada mereka perihal kematian dan segala hal yang terjadi setelahnya di alam Barzakh serta segala hal yang diperoleh baik berupa kenikmatan maupun adzab yang dialami ruh dan jasad yang para nabi sebelumnya belum pernah mengajarkannya kepada umatnya. Begitu pula beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan tentang dalil-dalil tauhid, kenabian dan pembalasan (mi’ad) serta bantahan terhadap seluruh kelompok kafir dan sesat, sehingga orang yang telah mengetahuinya tidak butuh lagi kepada (penjelasan) orang setelah beliau, Allohumma, kecuali kepada orang yang menyampaikan, menjelaskan dan menerangkan perkara yang masih tersamar atasnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga mengajarkan kepada mereka siasat di dalam berperang, berhadapan dengan musuh dan cara-cara meraih kemenangan dan kejayaan, yang sekiranya mereka (umat ini) mengetahui dan memahaminya serta menjaganya dengan sebaik-baiknya, niscaya musuh-musuh mereka tidak akan mampu mengalahkan mereka untuk selama-lamanya.

Demikian pula beliau telah mengajarkan kepada umatnya tipu daya iblis dan jalan-jalan yang digunakan olehnya untuk memperdaya manusia, cara menjaga diri dari tipu daya dan makarnya dan cara menolak kejahatannya agar tidak semakin bertambah kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga mengajarkan umatnya tentang perihal jiwa-jiwa mereka beserta sifat-sifatnya, dan segala hal yang menyelinap dan terpendam di dalamnya, yang mereka sudah tidak butuh lagi (penjelasan) selain beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga turut mengajarkan kepada mereka tentang urusan penghidupan (mata pencaharian) mereka, yang apabila mereka mengetahui dan mengamalkannya, niscaya akan jaya dunia mereka dengan sejaya-jayanya.

Secara umum, beliau datang kepada mereka dengan seluruh kebaikan dunia dan akhirat, dan Alloh menjadikan mereka sudah tidak butuh lagi kepada seorangpun selain beliau. Lantas, bagaimana bisa ada yang mengira bahwa syariat beliau yang sempurna ini, yang tidak ada satu syariatpun yang datang ke dunia yang lebih sempurna dari syariatnya, dianggap masih kurang, masih memerlukan siyasah (politik) asing untuk menyempurnakannya, atau masih memerlukan qiyas (analog), haqiqat (esensi) atau akal pemikiran dari luar. Barangsiapa yang beranggapan demikian, maka ia seperti orang yang beranggapan bahwa manusia masih butuh kepada rasul lain setelah beliau. Penyebab kesemua hal ini adalah, masih tersamarnya risalah yang dibawa nabi atas orang yang mengira demikian dan dikarenakan pemahamannya yang minim.

Alloh telah memberikan taufiq-Nya kepada para sahabat Nabi-Nya, yang mereka telah mencukupkan diri dengan risalah yang datang kepada beliau dan mereka sudah merasa tidak butuh lagi dengan selain risalah beliau, sehingga akhirnya mereka dapat membuka hati (manusia untuk masuk Islam, pent.) dan membuka (menaklukan) negeri-negeri, sembari mengatakan : Ini adalah perjanjian Nabi kami kepada kami dan merupakan perjanjian kami kepada kalian.” [selesai]

Dialihbahasakan dari al-Hatstsu ‘alâ ittibâ`is Sunnah wat Tahdzîru minal Bida’ karya Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr oleh Abu Salma.

[1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Muqoddimah Tafsir al-Qur`anil Azhim (juz I, hal. 6) : “Siapa saja yang telah sampai Al-Qur`an ini kepadanya, baik orang Arab maupun ‘Ajam (non Arab), orang berkulit hitam maupun berkulit merah, jin maupun manusia, maka Al-Qur`an ini adalah peringatan baginya. Oleh karena itulah Alloh Ta’ala berfirman : “Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, Maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya” (QS Huud : 17). Barangsiapa dari orang-orang yang kami sebutkan tadi yang mengkufuri Al-Qur`an, maka nerakalah tempat yang diancamkan padanya, dengan penegasan Alloh Ta’ala sebagaimana dalam firman-Nya : “Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan Ini (Al Quran). Nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka.” (QS al-Qolam : 44-45)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

بُعِثتُ إلى الأحمر والأسود

“Aku diutus kepada orang berkulit merah dan berkulit hitam”

Mujahid berkata : “yaitu manusia dan jin.” Beliau Shalawatullah wa Salamuhu ‘alayhi adalah utusan Alloh kepada semua makhluk baik jin dan manusia. Sebagai penyampai kepada mereka risalah yang diwahyukan Alloh kepadanya dari Kitab yang mulia ini, “Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS Fushshilat : 42)

SUU’ AL-KHULUQ

(AKHLAQ YANG BURUK)

Oleh : Al-Ustadz Mubarak, Lc.

Pengertian ‘Suu’ul khuluq’ (Akhlak yang buruk)

Kata ‘Suu’ secara bahasa adalah ‘ism mashdar’ (kata benda abstrak) dari “saa’a – yasuu’u” yang berati ‘qub-hun’ buruk atau jelek. Allah subhaanahu wa Ta’ala berfirman :

ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاؤُوا السُّوأَى

“Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk”. (Q.S. ar-Ruum : 10).

Ibnu Mandhur berkata :

يُقَالُ : سَاءَ مَا فَعَلَ فُلاَنٌ

Dikatakan; jelek apa yang dikerjakan oleh si Fulan itu.

أَيْ قَبُحَ صَنِيْعُهُ صَنِيْعاً

Artinya; perbuatannya amat buruk.

Beliau juga mengatakan :

وَالسُّوءُ: الفُجُورُ وَالمُنْكَرُ

As-suu’ artinya; kejahatan dan kemungkaran.

Adapun kata ‘al-Khulq’ yang bentuk jamaknya ‘Akhlaaq’ berarti; tabiat atau perangai.

Al-khulq pada diri seseorang terkadang merupakan tabiat dan pembawaan dan terkadang dicapai dengan riyadhah (pembiasaan) dan kesungguhan.

Dari pengertian secara bahasa di atas, dapat disimpulkan bahwa su’ul khuluq (akhlaq yang buruk) adalah perangai yang jelek lagi munkar yang diinkari oleh setiap orang yang berakal sehat. Dari sini pula dapat didefenisikan bahwa pengertian ‘suu’ul khuluq adalah;

بَذْلُ اْلقَبِيْحِ وَ كَفُّ الْجَمِيْلِ

“Mengexpresikan keburukan dan menahan diri dari perbuatan yang baik”, atau dalam pengertian lain :

التَّحَلِّى بِالرَّذَائِلِ وَالتَّخَلِّى مِنَ اْلفَضَائِلِ

“Menghiasi diri dengan berbagai sifat yang hina/rendah dan mengosongkannya dari berbagai sifat yang utama”.[1]

PILAR-PILAR SU’UL KHULUQ

Tatkala kita mendengar, melihat atau menyaksikan berbagai keburukan moral dan akhlak, tentunya kita menanyakan faktor penyebabnya. Karena keburukan akhlaq adalah akibat dari suatu sebab. Untuk mengetahui penyebab keburukan akhlaq ini, penulis mengajak para pembaca untuk menyimak secara seksama uraian al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullahu sebagai berikut;

Beliau rahimahullahu berkata : “Sumber munculnya semua akhlaq yang rendah dan buruk ada empat hal yang menjadi pilar dan penyangganya :

1. al-Jahlu (kebodohan).
2. adh-Zhulmu (kezaliman)
3. asy-Syahwatu (syahwat/nafsu yang tak terkendali)
4. al-Ghadhabu (kemarahan).

Selanjutnya beliau rahimahullahu menguraikan empat hal tersebut dengan mengatakan; bahwa al-Jahlu (kebodohan) mengakibatkan seseorang memperlihatkan sesuatu yang bagus dalam gambaran yang jelek, dan sesuatu yang jelek dalam gambaran yang bagus, menampakkan yang sempurna dalam gambaran yang kurang dan sesuatu yang kurang dalam gambaran yang sempurna.

adh-Zhulmu (kezaliman) membawa seseorang kepada penempatan sesuatu bukan pada tempatnya. Sehingga dia murka pada sesuatu yang seharusnya dia ridha dan ridha pada sesuatu yang semestinya dia murka, berbuat tindakan kejahilan pada sesuatu yang semestinya dia serius, berlaku pelit dan kikir pada situasi yang memerlukan pengorbanan harta, mundur pada situasi yang semestinya dia maju dan maju pada situasi yang semestinya dia mundur, bersikap lembut pada kondisi yang semestinya bersikap tegas dan bersikap tegas dalam situasi yang seharusnya dia bersikap lunak, bersikap tawadhu’ (rendah hati) pada situasi yang semestinya dia bersikap gagah berani dan bersikap menyombongkan diri pada kondisi yang seharunnya dia tawadhu’.

Adapun asy-Syahwah (syahwat/nafsu yang tak terkendali) membawa seseorang kepada kerakusan yang sangat, kikir dan pelit, menerjang kehormatan diri, ketamakan, kehinaan dan segala sifat yang rendah.

Adapun al-Ghadhab (kemarahan) mendorong seseorang kepada keangkuhan, kedengkian dan hasad, permusuhan dan kedunguan.

Kami katakan; jika kita menelusuri ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kita akan jumpai larangan mendekati empat hal di atas.

1. Kejahilan dan orang-orang jahil

Allah Ta’ala berfirman :

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Q.S. al-Furqaan : 63).

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. (Q.S. al-A’raaf : 199).

Nabi Nuh ‘alaihis Salam mendapat teguran dari Allah tatkala mendoakan anaknya yang tidak beriman kepada beliau agar diselamatkan Allah dari air bah dan mengatakan bahwa anaknya termasuk dari keluarganya, maka Allah berfirman kepadanya :

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Q.S. Huud : 46).

2. Kezaliman :

Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia tidak berbuat kezaliman :

تِلْكَ آيَاتُ اللّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعَالَمِينَ

“Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya”. (Q.S. Ali ‘Imraan : 108).

Allah melarang perbuatan kezaliman terhadap harta dan darah sesama manusia:

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَاناً وَظُلْماً فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَاراً وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللّهِ يَسِيراً

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (Q.S. an-Nisaa’ : 29-30).

Kezaliman dalam bentuk menolak kebenaran :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْماً وَعُلُوّاً فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan”. (Q.S. An-Naml : 14).

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang perbuatan kezaliman secara umum, Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ”

“Takutlah kamu dari berbuat kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu kegelapan-kegelapan dihari kiamat”. (H.R. Muslim).

Dan beliau melarang kezaliman terhadap darah, harta dan kehormatan sesama muslim dalam khutbah wada’ beliau dengan mengatakan :

“إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا”

“Sesungguhnya darah-darah kamu, harta-harta kamu dan kehormatan-kehormatan kamu haram di antara kamu seperti haramnya harimu ini, bulanmu ini di negerimu ini”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

3. Mengikuti syahwat/hawa nafsu

Mengikuti syahwat dan hawa nafsu telah merusak perangai pelakunya, oleh karena itu Allah melarangnya dalam banyak ayat al-Qur’an, juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sejumlah hadits, di antaranya Allah Ta’ala berfirman :

وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً

“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)”. (Q.S. an-Nisaa’ : 27).

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً س

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, (Q.S. Maryam : 59)

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (Q.S. Shaad : 26).

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S. al-Qashash : 50).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ”

“Takutlah kamu dari sifat pelit, karena sesungguhnya sifat pelit itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, membawa mereka menumpahkan darah-darah mereka dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan kepada mereka”. (H.R. Muslim).

Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“لَوْ كَانَ لابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ َلابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ”

Seandainya Ibnu Adam memiliki dua lembah harta, niscaya dia mengharapkan yang ketiganya, padahal tidaklah mengisi perut anak Adam kecuali debu/tanah”. (H.R. Muslim).

4. Kemarahan

Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam banyak menyebut pujian bagi orang yang menahan kemarahan dan mampu mengendalikan diri, sebaliknya mencela amarah yang tidak terkendali, karena ia salah satu penyebab timbulnya keburukan akhlak. Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf”. (Q.S. asy-Syuuraa : 37).

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q.S. Ali ‘Imraan : 134).

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukan lah orang yang kuat dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang menguasai dirinya ketika marah”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ, أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِي!, قَالَ : “لاَ تَغْضَبْ”, فَرَدَّدَ مِرَارًا, قَالَ: “لاَ تَغْضَبْ”.

Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu (berkata) bahwasanya seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ; berilah aku wasiat, beliau berkata : “Janganlah kamu marah!”, orang itu mengulang-ulangi permintaan wasiatnya, beliau tetap mengatakan : “Janganlah kamu marah !” (H.R. Bukhari).

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘anhu beliau berkata :

“أَوَّلُ الْغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ”

“Permulaan kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya penyesalan” (al-Adab asy-Syar’iyyah 1/230).

FENOMENA SUU’UL KHULUQ & PENGOBATANNYA.

Jika kita menelusuri fenomena dan gejala perangai yang buruk, kita jumpai banyak hal yang dikerjakan oleh manusia sebagai bentuk perangai yang buruk, di antaranya ;

1. Sikap kasar dan kaku dalam ucapan, tindakan dan perbuatan. Padahal dalam al-Qur’an Allah Ta’ala memerintahkan untuk bertuturkata yang baik terhadap manusia baik, Allah Ta’ala berfirman :

وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسْناً

“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (Q.S. al-Baqarah : 83).

Demikian pula kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diutus-Nya dengan membawa wahyu dan petunjuk, beliau diingatkan oleh Allah dengan firman-Nya :

وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (Q.S. Ali ‘Imraan : 159).

1. Menyeramkan wajah sehingga tampak sangar dan mengerutkan dahi serta tidak penah tersenyum kepada orang lain tanpa dosa dan kesalahan yang mereka perbuat. Perangai ini adalah perpaduan antara keangkuhan dan watak yang keras. Sebab, peremehan terhadap manusia disebabkan oleh sifat ujub dan angkuh, sedangkan tidak senyum kepada teman dan saudara timbul karena watak yang keras dan tabi’at yang kasar. Padahal tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita bahwa bertemu saudara sesama muslim dengan wajah yang ceria suatu perbuatan yang ma’ruf. Dari Abu Dzar al-Ghifari z berkata ; Nabi n berkata kepadaku :

“لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ”

“Janganlah sekali-kali kamu meremehkan suatu perbuatan baik meskipun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria”. (H.R. Muslim).

1. Cepat marah, ini adalah perangai yang tercela secara syari’at dan akal. Betapa banyak peristiwa yang tidak diinginkan terjadi karena sifat ini seperti; pembunuhan, perceraian, perselisihan, pertengkaran antara dua sahabat dan beragam kerusakan lainnya sebagai akibatnya. Sifat ini bisa dihilangkan dengan melaksanakan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

· Membaca ta’awwudz ketika marah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyaksikan dua orang yang saling mengata-ngatai, maka beliaupun bersabda :

إنِّي َلأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ:

Bahwasanya aku mengetahui suatu kalimat, seandainya dia mengucapkannya niscaya hilang kemarahannya. Seandainya dia mengucapkan :

“أَعُوْذُ باللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ”

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, niscaya akan hilang kemarahannya. (H.R. Bukhari dan Muslim).

· Mengingat dan merenungkan balasan yang dijanjikan bagi orang yang mampu menahan amarahnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

“مَنْ كَظَمَ غَيْظاً ، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ ، دَعَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ اْلعِيْنِ مَا شَاءَ”

“Barang siapa menahan amarah padahal dia mampu untuk melampiaskannya, niscaya Allah Subhaana Ta’ala akan memanggilnya di tengah keramaian manusia pada hari kiamat, hingga memberikannya pilihan dari bidadari-bidadari surga yang dikehendakinya”. (H.R. Abu Dawud dan dihasankan oleh al-Muhaddits al-Albani).

· Mengambil sikap diam ketika marah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ”

“Jika salah seorang di antara kamu marah, hendaklah ia diam” (Hadits Riwayat Ahmad dan lainnya dan dishahihkan oleh al-Albani).

1. Menghadapi orang dengan berwajah dua; terkadang ada orang yang menghadapi temannya dengan tersenyum, ramah dan baik, menampakkan cinta dan kesepakatannya kepadanya, tetapi di belakangnya dia mengata-ngatai dan menjelekkannya dengan lisannya. Sifat ini salah satu sifat terjelek dan terendah dan pelakunya termasuk orang yang terjelek dan terendah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“تَجِدُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ”

“Engkau akan mendapati di antara manusia yang paling jelek di hari kiamat di sisi Allah adalah orang yang berwajah dua[2], yang datang kepada yang ini dengan satu wajah dan kepada yang ini dengan wajah yang lain” (H.R. Bukhari no : 5598).

Sifat ini telah dicela, bukan saja oleh orang yang beragama dan berakal, bahkan orang yang hidup di zaman jahiliyyah-pun mencela dan mengingkarinya, Mutsaqqib al-Abdiy berkata :

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْ يَكْشُرُلِى # حِيْنَ يَلْقَانِى وَإِنْ غِبْتُ شَتَمَ.

“Sesungguhnya sejelek-jelek manusia, orang yang tertawa ketika bertemu aku namun jika aku tiada dia mengata-ngataiku”.[3]

1. Hasad dan dengki; yaitu berangan-angan hilangnya suatu ni’mat dari orang yang dia hasudi, atau murka dan benci tatkala melihat kondisi orang yang dia hasudi lebih baik.[4]

Sifat ini adalah penyakit kronis dan racun yang mematikan, tidak selamat dari penyakit ini kecuali orang yang diselamatkan Allah Ta’ala Yang Maha Besar. Sifat ini salah satu sifat ahlil kitab yang dicela oleh Allah dalam firman-Nya :

“Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran”. (Q.S. al-Baqarah : 109).

Pada ayat yang lain Allah berfirman ;

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?”. (Q.S. an-Nisaa’ : 54).

Oleh karena keburukan sifat ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang dalam banyak hadits, di antaranya :

“لاَ تَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُونُوْا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا”

“Janganlah kamu saling murka, janganlah kamu saling dengki dan janganlah kamu saling membelakangi, akan tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Untuk menyembuhkan penyakit hasud dan dengki hanya dengan mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam menjauhinya dan kembali kepada Allah dengan menyadari bahwasanya segala ni’mat yang dianugerahkan kepada manusia dari Allah Ta’ala, Dia memberikannya kepada yang Dia kehendaki.

لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَي وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعَ

“Tiada yang dapat mencegah apa yang diberikan-Nya dan tiada yang dapat memberikan apa yang dicegah-Nya”.

Itulah di antara contoh perangai dan akhlaq yang buruk lagi jelek. Jika kita menelusurinya akan kita jumpai sejumlah contoh akhlaq yang buruk yang harus dijauhi. Salah satu upaya untuk menjauhinya dengan melatih diri dan membiasakannya dengan akhlaq yang mulia dan senantiasa berdoa kepada Allah agar dijauhi dari sifat dan perangai yang buruk di antaranya :

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي ِلأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي ِلأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah berilah aku petunjuk kepada akhlak yang terbaik (karena), tiada yang menunjuki kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau, dan palingkanlah aku dari akhlak yang buruk (karena), tiada yang memalingkan dari akhlaq yang buruk kecuali Engkau”.[5]

Juga dengan do’a :

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ اْلأَخْلاَقِ وَاْلأَعْمَالِ وَاْلأَهْوَاءِ

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbagai akhlak, amal perbuatan dan hawa nafsu yang buruk”.[6]

Wallahu Ta’ala a’lam.

[1] Madaarij as-Saalikiin 2/294.

[2] Yaitu para munafik, pengadu domba yang pandai bermain cantik dalam kemunafikan mereka. Wallahu a’lam.

[3] “Suu’ul khuluq” hal : 25 dinukil dari kitab “ad-Diiwaan”.

[4] Ibid hal. 34

[5] Do’a ini cuplikan dari salah satu do’a iftitah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alayhi was Salam dalam hadits riwayat Muslim,Tirmidzi, Nasaa’i. dan lainnya. (Su’ul Khuluq hal : 92).

[6] H.R, Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani (Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi no : 3591).

Sufyan Bin ‘Uyainah Rahimahullah(Kunikahi dia karena Agamanya)

Kisah Teladan by ummu umar

Orang alim ini dilahirkan pada tahun 107 H pada pertengahan bulan Syawwal, dan ajal menjemputnya pada hari Sabtu, 1 Rajab 198 H. Nasab lengkapnya, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran al Kufi. Dia dikenal dengan panggilan Abu Muhammad.

Ayahnya seorang pegawai pada masa Khalid bin Abdillah Al Qasri. Tatkala Khalid diberhentikan dari jabatan Gubernur Iraq dan digantikan oleh Yusuf bin Umar ats Tsaqafi, pejabat baru ini mencari-cari para staff pada masa pemerintahan Khalid, sehingga mereka berlarian untuk menyembunguikan diri. ‘Uyainah, Ayah Sufyan kecil, melarikan diri sampai ke kota Mekkah dan akhirnya memutuskan berdomisili disana.

Ketika ia menapak usia lima belas tahun, ayahku memanggil, seraya berpesan : “Wahai Sufyan! Masa kanak-kanak sudah lepas darimu, maka kejarlah kebaikan, supaya engkau termasuk orang-orang yang mengejarnya. Jangan tertipu dengan pujian orang-orang yang menyanjungmu dengan pujian yang Allah mengetahui, bahwa keadaanmu berlawanan dengan itu. Sebab, tidak ada orang yang berkata baik kepada orang lain tatkala ia sedang senang, kecuali ia akan berkata kejelekan kepadanya serupa ketika ia sedang dilanda amarah. Nikmati kesendirian daripada bergaul dengan kawan-kawan yang buruk. Jangan engkau alihkan prsangka baikku kepadamu kepada prasangka lain. Dan tidak akan ada orang yang berbahagia bersama dengan ulama, kecuali orang-orang yang mentaati mereka”.

Mendengar nasihat ayahnya ini Sufyan berkata dalam hati : ”Sejak itu, aku menjadikan pesan Ayah sebagai arah kompasku, berjalan bersamanya, tidak menyimpang darinya”.

Begitulah yang ia jalani. Sejak usia dini, ulama besar ini telah menyibukkan diri pada pendalaman ilmu din. Tepatnya pada tahun 119 H.

Ibnu ’Uyainah mengisahkan tentang dirinya : ”Aku keluar menuju masjid, dan aku melihat-lihat halaqah-halaqah (majlis ilmu) yang ada. Bila aku lihat ada kumpulan ulama dan orang-orang tua, maka aku menghampirinya”.

Dia menceritakan: ”Aku duduk di majlis ilmu Ibnu Syihab dalam usia enam belas tahun tiga bulan”.

Salah satu yang menunjukkan keberuntungannya, sebanyak delapan puluh ulama besar dari kalangan tabi’in sempat ia jumpai. Misalnya, ’Amr bin Dinar, az Zuhri, Muhammad bin al Munkadir, al A’masy, Sulaiman at Taimi, Humaid ath Thawil.

Tentang kekuatan hafalannya, ia berkata, ”Aku tidak pernah menulis sesuatu, kecuali sudah aku hafal sebelum aku menuliskannya.”

Tak pelak, berkat pergaulannya dengan ulama-ulama besar, telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang teguh, luas ilmunya dan mendalam. Ia menjadi nara sumber dalam berbagai permasalahan dan tempat curahan isi hati.

Yahya bin Yahya an Naisaburi menceritakan: ”Suatu hari, ada seorang lelaki mendatangi Sufyan dengan berkata : ’Wahai , Aba Muhammad (yang dimaksud adalah Sufyan). Aku ingin mengadukan kepadamu tentang keadaan istriku. Aku menjadi lelaki yang paling hina dan rendah dimatanya”.

Maka Sufyan menggeleng-gelengkan kepala heran, dan kemudian berujar : ”Mungkin, keadaan itu muncul karena engkau menikahainya untuk meraih kehormatan?”

Lelaki itu pun mengakuinya: ”Ya, betul wahai Aba Muhammad”.

Sufyan lalu berpesan: ”Barang siapa pergi karena mencari kehormatan, niscaya akan diuji dengan kehinaan. Barangsiapa mengerjakan sesuatu lantaran dorongan harta, niscaya akan diuji dengan kefakiran. Barang siapa bergerak karena dorongan din, niscaya Allah akan menghimpun kehormatan dan harta bersama dinnya”.

Berikutnya, Sufyan mulai berkisah :

”Kami adalah empat bersaudara, Muhammad, Imran, Ibrahim, dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak sulung., Imran anak bungsu. Sedangkan aku berada di tengah-tengah. Tatkala Muhammad ingin menikah, ia menginginkan kemuliaan nasab. Maka ia menikahi wanita yang lebih tinggi status sosialnya. Kemudian Allah mengujinya dengan kehinaan.

Sedangkan Imran, (saat menikah) ingin mendapatkan harta. Maka ia menikahi wanita yang lebih kaya dari dirinya. Allah kemudian mengujinya dengan kemiskinan. Keluarga wanita mengambil seluruh yang dimilikinya, tidak menyisakan sedikitpun.
Aku pun merenungkan nasib keduanya. Sampai akhirnya Ma’mar bin Rasyid datang menghampiriku. Aku pun berdiskusi dengannya. Aku ceritakan kepadanya peristiwa yang menimpa para saudaraku. Ia mengingatkanku dengan hadits Yahya bin Ja’daj dan hadits ’Aisyah.

Hadits Yahya bin Ja’dah yang dimaksud, yaitu sabda Nabi Shollallahu ’alayhi wa sallam:

”Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, status sosialnya, kecantikannya dan dinnya. Carilah waniya yang beragama, niscaya tanganmu akan beruntung”.

Sedangkan hadits ’Aisyah, Nabi Shollallahu ’alayhi wa Sallam bersabda :

Wanita yang paling besar berkahnya adalah waniya yang paling ringan beban pembiayaannya”

Maka, aku memutuskan untuk memilih bagi diriku (wanita yang) memiliki din dan beban yang ringan untuk mengikuti Sunnah Rasulullah Shollallahu ’alayhi wa sallam. Allah menghimpunkan bagiku kehormatan dan limpahan harta dengan sebab agamanya”.

Itulah salah satu hikmah yang muncul dari lisannya. Tidak sedikit untaian hikmah dari Sufyan yang mencerminkan kedekatannya dengan Al Khaliq, Allah Subhaanahu wa Ta’Ala.

Sufyan bin ’Uyainah pernah ditanya tentang hakikat wara’, Dia pun menjelaskan, wara’ adalah keinginan untuk mendalami ilmu din yang menjadi sarana untuk mengenal seluk-beluk wara’. Sebagian orang menganggap sikap wara’ tercermin pada sikap diam dalam waktu yang lama dan sedikit bicara, padahal tidak demikian. Menurut kami, sesungguhnya orang yang berbicara lagi alim, itu lebih afdhal dan lebih wara’ dibandingkan lelaki yang jahil lagi diam.

Sufyan bin ’Uyainah juga memiliki hikmah yang menunjukkan kedalaman ilmunya. Dia menyatakan, permisalan ilmu adalah bagaikan negeri kufur atas negeri Islam. Apabila penganut Islam meninggalkan jihad, niscaya orang-orang kafir akan datang dan mengambil Islam. Jika orang-orang meninggalkan ilmu, maka mereka menjadi manusia-manusia bodoh.

Tentang pentingnya menyampaikan ilmu yang sudah diketahui, dia berkata : ”Tidaklah disebut (sebagai) alim orang yang mengetahui kebenaran dan kejelekan. Tetapi, orang alim sejati ialah orang yang mengetahui kebaikan dan mengikutinya, serta mengetahui kejelekan dan menjauhinya”.

Semoga Allah menganugerahinya dengan rahmat yang luas dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi.
Diketik kembali oleh Ummu ’Umar dari Majalah As-Sunnah Edisi 10/IX/1426H/2005M

Yang mana tulisan dari Majalah As Sunnah tersebut bersumber dari Tahdzibul Kamal fi Asma-i ar Rijal (3/223-228) karya Aal Hafizh Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf al Mizzi, tahqiq Basyyar Awwad Ma’ruf, Muassasah ar Risalah, Cetakan 1 Tahun 1418 H – 1998 M

November 18, 2008

Kesabaran Berujung Kenikmatan

Kesabaran Berujung Kenikmatan

Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan disbanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan shalat lima waktu.

Pemuda ini lulus dengan nilai memuaskan. Tentu saja ia sangat ingin senang. Namun tak ada yang bisa menduga jalannya takdir. Suatu saat pemuda ini terserang penyakit influensa, dan sejak saat itu fisiknya mnejadi lemah hingga mudah terserang berbagai macam penyakit. Hingga karena komplikasi penyakit yang beragam, ia menjadi lumpuh. Tubuhnyatidak mampu lagi digerakkan sama sekali. Semua dokter yang menanganinya mengatakan kepada Dr.Khalid, kalau kemungkinan kesembuhan untuk pemuda itu sekitar 10% saja.

Pada saat Dr.Khalid membesuknya di rumah sakit, ia melihat pemuda itu tak berdaya diatas ranjangnya. Dr.Khalaid datang untuk menghiburnya. Namun Subhanallah, apa yang ia dapatkan justru sebaliknya, wajah pemuda it cerah jauh dari mendung kedukaan. Pada wajah itu jelas sekali terpancar cahaya dan kilauan iman.

”Alhamdulillah, sya dalam leadaan sehat-sehat saja. Sya berdoa kepada Allah Subhanaahuwataa’ala semoga Anda lekas sembuh.” kata Dr.Khalid membuka pembicaraan. Di luar dugaan pemuda itu menjawab,”Terimakasih untuk doamu. Sesunggunya saudaraku mungikn saat ini Allah tengah menghukumku karena lalai dalam menghafal Al-Qur’an. Allah menguji saya, agar saya segera menuntaskan hafalan saya. Sungguh ini adalah nikmat yang tiada terkira.”

Dr.Kahlid terpana mendengar jawaban menakjubkan itu. Bagaimna mungkin cobaan begitu berat yang tengah dialami pemuda itu dianggap sebagai suatu nikmat? Benar-benar ini adalah suatu pelajaran baru yang amat berharga bagi dirinya sehingga ia merasa tak berharga dihadapan pemuda itu.

Dr.kahlid teringat akan sabda Rasulullah Sallallahu A’laihi Wassallam : ” Sungguh menggumkn perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Hal ini hanya ada pada seorang mukmin. Ketika ia dikaruniai kesengangan ia bersyukur, maka hal iti baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia menghadapinya dengan sabar dan tabah, maka hal itu baik baginya.” (Riwayat Muslim)

Jujur saja Dr.Kahalid teramat mengagumi ketabahan pemuda itu. Beberapa pekan kemudian ia membesuk sahabatnya itu, sepupu sang pemuda berkata,”Coba gerakkan kakimu, coba angkat kakimu ke atas.” Peuda itu menjawab,”Sungguh saya amat malu kepada Allah untuk terburu-buru sembuh. Jika kesembuhan itu yang terbaik bai Allah, aku bersyukur. Namun, apabila Allah tidak memberikan kesembuhan padaku hanya agfar aku tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat aku pun bersyukur. Allah Amha Tau yang terbaik untukku.

Allahu Akbar, betapa kaimaat itu sangat menggetarkan. Setelah peristiwa itu Dr.khalid menempuh progrmmagisternya ke luar kota. Beberapa bulan setelah itu ia kembalidan yang pertama diingatnya adalah pemuda sahabatnya itu. Dalam benaknya ia berpikir,”Paling saat ini ia sedang terbaring lemah di atas kasurnya, jika ia kemana-mana pastilah ia digotong.”

Ternyata menurut teman-temannya pemuda itu sudah pindah ke ruang penyiapan untuk mendapatkan pengobatan alami. Pada saat Dr.Khalid menemuinya, ia tengah duduk di kursi roda. Dr.Khalid senagng sekali melihatnya hingga berkali-kali ia mengucapkan syukur.

Pemuda itu dengan spontan menyampaikankabar gembira yang tak terduga ”Alhamdulillah saya telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.” katanya penuh semangat. ”Subhanallah” Dr.Khalid memekik kagum. Setiap kali membesuknya ia selalu mendapat hikmah yang semakin mempertebal keimanannya.

Tidak lama berselang, Dr.Khalid kembali pergi ke luar kota selama empat bulan. Dan selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan pemuda sahabatnya yang sangat tabah itu. Hingga saat ia kembali, ia menerima kenyataan yang amat sulit diterima oleh akal manusia. Namun, bagi Dzat yang Maha Tinggi, bukanlah hal yang mustahil terjadi. Jangankan hanya sakit, tulang-belulang yang telah hancur pun bisa dihidupka kembali menjadi manusia yang utuh.

Pada waktu Dr.Khalid sedang shalat di mushalla rumah sakit itu. Tiba-tiba ia mendengar sapaan seseorang, ”Abu Muhammad!” Reflek dia menoleh dan pandangan di hapannya membuatnya terpana. Ia tak mapu mengucap sepatah kata pun. Benar, Wallahi (Demi Allah-red) yang berdiri di hadapannya adalah pemuda sahabatnya yang dulu lumpuh total. Namun di hadapannya kini ia dapat berjalankembali dengan normal dan segar bugar. Allahu Akbar, sesungguhnya keimanan lah yang dapat memunculkan keajaiban.

Spontanitas, Dr. Khalid menangis. Pertama dia menangis karena terharu dan senang akan karunia Allah berupa kesembuhan untuk sahabatnya itu. Kedua ia menangis untuk dirinya sendiri yang selama ini lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmatNya.

Ternyata, karunia untuk sahabatnya tidak hanya sebatas itu. Ia diterima sebagai delegasi Universitas Malik Su’ud Riyadh, kerajaan Saudi Arabia untuk melanjutkan studi magisternya. ”Dr. Khalid apa yang saya terima ini justru akan menjadi malapetaka bagi saya jika saya tidak mensyukurinya.” Paparnya kepada Dr.Khalid

Setelah tujuh tahun, pemuda itu mengunjungi Dr. Khalid kembali dalam rangka mengantar kakeknya yang terkena penyakit hati. Dan Subhanallah, ia telah menjadi seorang mayor!

Dr.Khalid kembali meneteskan airmatanya. Ia berdoa kepada Allah agar pemuda itu selalu dalam kebaikan dan selalu istiqomah di dalam iman dan islam. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan setiap hambaNya.

(Ummu Faros, dari penjagaan Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih; Khalid Abu Shalih )

Diambil dari : Majalah Elfata, Volume 07 2007, Kasih sayang di Bulan Suro.

Surat Cinta untuk Saudariku (2)

Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan Khadafi

Wahai saudariku,
Kembalilah!
Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!
Kematian bisa datang kapan saja.
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan bermaksiat?
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!
Tidakkah kita rindu dengan surga?
Bagaimana bisa masuk jika mencium baunya saja tidak bisa?

Saudariku,
Apalagi yang menghalangi kita dari syari’at yang mulia ini?
Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari’at ini?
Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan dunia.
Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?
Duhai…
Apa yang hendak kita cari dari kampung dunia?
Apalah artinya jika dibanding dengan kampung akhirat?
Mana yang hendak kita cari?

Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan patuh pada apa yang Allah syariatkan. Dan bersegera padanya…

Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.
Lalu jilbab seperti apa yang Allah maksudkan?
Jilbab kan modelnya banyak…
*Semoga Allah memberi hidayah padaku dan pada kalian untuk berada di atas ketaatan dan istiqomah diatasnya*
Iya, saudariku.
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui jilbab seperti apa yang Allah maksudkan dalam perintah tersebut supaya kita tidak salah sangka.
Sebagaimana kita ingin melakukan sholat subuh seperti apa yang Allah maksud, tentunya kita juga ingin berjilbab seperti yang Allah maksud.

“Ya… terserah saya! Mau sholat subuh dua rokaat atau tiga rokaat yang penting kan saya sholat subuh!”

“Ya… terserah saya! Mau pake jilbab model apa, yang penting kan saya pake jilbab!”

Mmm…
Tidak seperti ini kan?

Pembahasan mengenai hal ini ada sebuah buku yang bagus untuk dijadikan rurukan karena di dalamnya memuat dalil-dalil yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah, yaitu Jilbab al Mar’ah al Muslimah fil Kitabi wa Sunnah yang ditulis oleh Muhammad Nasiruddin Al Albani. Buku ini telah banyak diterjemahkan dengan judul Jilbab Wanita Muslimah.

Adapun secara ringkas, jilbab wanita muslimah mempunyai beberapa persyaratan, yaitu:

1. Menutup seluruh badan

Adapun wajah dan telapak tangan maka para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama menyatakan wajib untuk ditutup dan sebagian lagi sunnah jika ditutup. Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albani dalam buku di atas mengambil pendapat sunnah. Masing-masing pendapat berpijak pada dalil sehingga kita harus bisa bersikap bijak. Yang mengambil pendapat sunnah maka tidak selayaknya memandang saudara kita yang mengambil pendapat wajib sebagai orang yang ekstrim, berlebih-lebihan atau sok-sokan karena pendapat mereka berpijak pada dalil. Adapun yang mengambil pendapat wajib maka tidak selayaknya pula memandang saudara kita yang mengambil pendapat sunnah sebagai orang yang bersikap meremehkan dan menyepelekan sehingga meragukan kesungguhan mereka dalam bertakwa dan berittiba’ (mengikuti) sunnah nabi. Pendapat mereka juga berpijak pada dalil.

*Semoga Allah menjadikan hati-hati kita bersatu dan bersih dari sifat dengki, hasad, dan merasa lebih baik dari orang lain*

2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan

3. Kainnya harus tebal dan tidak tipis

4. Harus longgar, tidak ketat, sehingga tidak dapat menggambarkan bentuk tubuh

5. Tidak diberi wewangian atau parfum

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki

7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir

8. Bukan libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas)

“BERAT!
Rambutku kan bagus! Kenapa harus ditutup?
Lagi pula kalau ditutup bisa pengap, nanti kalau jadi rontok gimana?”

“RIWEH!
Harus pakai kaus kaki terus.
Kaus kaki kan cepet kotor, males nyucinya!”

“Baju yang kaya laki-laki ini kan baju kesayanganku! Ini style ku! Kalau pake rok jadi kaya orang lain. I want to be my self! Kalau pakai bajunya cewek RIBET! Gak praktis dan gak bisa leluasa!”

Saudariku,
Sesungguhnya setan tidak akan membiarkan begitu saja ketika kita hendak melakukan ketaatan kecuali dia akan membisikkan kepada kita ketakutan dan keragu-raguan sehingga kita mengurungkan niat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menjadikanku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka, belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka, sehingga Engkau akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (Qs. Al A’raf: 16-17)

Ibnu Qoyyim berkata “Apabila seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka setan akan berusaha melemahkan semangatnya, merintangi, memalingkan, dan membuat dia menunda-nunda melaksanakan ketaatan tersebut. Apabila seorang melakukan kemaksiatan, maka setan akan membantu dan memanjangkan angan dan keinginannya.”

Mungkin setan membisikkan
“Dengan memakai jilbab, maka engkau tidak lagi terlihat cantik!”

Sebentar!
Apa definisi cantik yang dimaksud?
Apa dengan dikatakan “wah…”, banyak pengagum dan banyak yang nggodain ketika kita jalan maka itu dikatakan cantik?
Sungguh!
Kecantikan iman itu mengalahkan kecantikan fisik.
Mari kita lihat bagaimana istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabiyah!
Apa yang menyebabkan mereka menduduki tempat yang mulia?
Bukan karena penampilan dan kecantikan, tetapi karena apa yang ada di dalam dada-dada mereka.
Tidakkah kita ingin berhias sebagaimana mereka berhias?
Sibuk menghiasi diri dengan iman dan amal sholeh.
Wahai saudariku,
Seandainya fisik adalah segala-galanya, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memilih wanta-wanita yang muda belia untuk beliau jadikan istri. Namun kenyataannya, istri-istri nabi adalah janda kecuali Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Atau… mungkin setan membisikkan
“Dengan jilbab akan terasa panas dan gerah!”

Wahai saudariku,
Panasnya dunia tidak sebanding dengan panasnya api neraka.
Bersabar terhadapnya jauh lebih mudah dari pada bersabar terhadap panasnya neraka.
Tidakkah kita takut pada panasnya api neraka yang dapat membakar kulit kita?
Kulit yang kita khawatirkan tentang jerawatnya, tentang komedonya, tentang hitamnya, tentang tidak halusnya?
Wahai saudariku,
Ketahuilah bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan kesejukan di hati. Jika hati sudah merasa sejuk, apalah arti beberapa tetes keringat yang ada di dahi.
Tidak akan merasa kepanasan karena apa yang dirasakan di hati mengalahkan apa yang dialami oleh badan.

Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Semoga Allah memudahkan nafsu kita untuk tunduk dan patuh kepada syariat.

“Riweh pake kaus kaki.”
“Ribet pake baju cewek.”
“Panas! Gerah!”

Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan meski nafsu kita membencinya.
Setiap ketaatan yang kita lakukan dengan ikhlas, tidak akan pernah sia-sia. Allah akan membalasnya dan ini adalah janji Allah dan janji-Nya adalah haq.

“Celana bermerk kesayanganku bagaimana?”
“Baju sempit itu?”
“Minyak wangiku?”

Saudariku…
Semoga Allah memudahkan kita untuk meninggalkan apa saja yang Allah larang meski nafsu kita menyukainya.
Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Semoga Allah memudahkan kita untuk bersegera dalam ketaatan,
Meneladani para shohabiyah ketika syariat ini turun, mereka tidak berfikir panjang untuk segera menutup tubuh mereka dengan kain yang ada.

Saudariku,
Jadi bukan melulu soal penampilan!
Bahkan memamerkan dengan menerjang aturan Robb yang telah menciptakan kita.
Tetapi…
Mari kita sibukkan diri berhias dengan kecantikan iman.
Berhias dengan ilmu dan amal sholeh,
Berhias dengan akhlak yang mulia.
Hiasi diri kita dengan rasa malu!
Tutupi aurat kita!
Jangan pamerkan!
Jagalah sebagaimana kita menjaga barang berharga yang sangat kita sayangi.
Simpanlah kecantikannya,
Simpan supaya tidak sembarang orang bisa menikmatinya!
Simpan untuk suami saja,
Niscaya ini akan menjadi kado yang sangat istimewa untuknya.

Saudariku,
Peringatan itu hanya bermanfaat bagi orang yang mau mengikuti peringatan dan takut pada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Robb Yang Maha Pemurah walau dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 11)

Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mau mengikuti peringatan,
Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang takut pada Robb Yang Maha Pemurah walau kita tidak melihat-Nya,
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

Kita berlindung pada Allah dari hati yang keras dan tidak mau mengikuti peringatan. Kita berlindung pada Allah, Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang Allah firmankan dalam QS. Yasin: 10 (yang artinya):

“Sama saja bagi mereka apakah kami memberi peringatan kepada mereka ataukah kami tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” (QS. Yasin: 10)

***

Artikel www.muslimah.or.id

Surat Cinta untuk Saudariku (1)

Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan Khadafi

Tulisan ini bermula dari rasa gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat, sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.

“Mmm… yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen sama rok…”

Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu kemudian padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan kesungguhan, Allah memudahkan untuk istiqomah dan terus memperbaiki diri.

Saudariku,
Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita bersaudara di atas ikatan iman.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling menyayangi di atas ikatan tersebut.

Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.

Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu sama lainnya.

Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.

Saudariku,
Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,
Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan orang-orang yang kita sayangi,
Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar ini,
Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat ini-
Robb yang telah memberi kita banyak sekali nikmat,
Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang taat,
Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang enggan untuk taat,
Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji,
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya,

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya,

“Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.”

Di dalam hadis lain terdapat tambahan:

“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.” (Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Mu’jam As-Shaghir hal. 232, dari hadits Ibnu Amru dengan sanad shahih. Sedangkan hadits yang lain tersebut dikeluarkan oleh muslim dari riwayat Abu Hurairah)

Saudariku,
Masih akrab dalam pandangan kita, saudari-saudari kita keluar rumah dengan membuka auratnya. Beberapa diantaranya sangat “memperhatikan” penampilannya.
Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,
Bahkan diantaranya kita lihat baju yang sempit dan serba pendek,
celana yang juga serba pas-pasan,
rambut direbounding,
alis yang “dirapikan”,
lipstik tipis warna pink,
minyak wangi yang mmmm…
*mungkin karena belum tahu*

Saudariku,
Apa yang kita dapat dari semua ini?
“cantik”?
“aduhai”?
“modis”?
“gaul”?
“tidak ketinggalan jaman”?
atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar rumah dan berhadapan dengan orang-orang?

Memang banyak yang akan melihat “WAH” pada wanita yang berpenampilan seperti ini sehingga menyebabkan beberapa di antara kita tertipu dan bahkan berlomba untuk menjadi yang “terhebat” dalam masalah ini.

Tetapi saudariku,
Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah yang sejati!
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan merk yang ada pada baju-baju mereka.
Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar Bering lebih mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada Allah,
Robb yang telah menciptakan kita,
Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.
Duhai…
Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?

Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.
Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa yang tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung hidungnya, seberapa cantik wajahnya, seberapa elok parasnya, seberapa anggun bersoleknya.
Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh badannya.
Ya!
Seseorang dinilai dari ketaqwaannya.
Jadi tidak perlu lagi kita bersibuk-sibuk untuk pamerkan kebolehan tubuh dan kecantikan.

Saudariku,
Tidakkah kita melihat jajanan yang ada di emperan?
Terbungkus dengan ala kadarnya,
semua orang bisa menjamahnya,
atau bahkan mencicipinya.
Bahkan seringkali yang mencicipi adalah orang iseng yang tidak benar-benar bermaksud untuk membeli. Setelah mencicipinya, dia letakkan kembali kemudian dia tinggal pergi.
Bukan hanya orang iseng, bahkan lalat-lalat pun mengerumuninya.
Berbeda dengan makanan berkualitas yang terbungkus rapi dan tersegel.
Terjaga dan tidak tersentuh tangan-tangan iseng.

Di antara keduanya, kita lebih memilih yang mana?
Tentu yang kedua.
Jika untuk makanan saja demikian, maka lebih-lebih lagi kita memilih untuk diri kita sendiri.

Saudariku,
Demikian juga keadaannya seorang lelaki yang baik-baik.
Dia akan memilih wanita yang menjaga kehormatannya,
yang kecantikannya tidak dia pamerkan.
Tidak dia biarkan dinikmati oleh banyak orang.
Yang demikian adalah karena wanita yang menjaga auratnya lebih mulia dari pada wanita yang memamerkan auratnya.

Wahai saudariku,
Bahkan lelaki yang sholeh berlindung pada Allah dari godaan kita.
Wanita adalah godaan yang besar bagi lelaki.
Pada umumnya lelaki itu lemah terhadap godaan wanita.
Maka sebagai wanita, jangan malah kita menggodanya!
Tetapi kita bantu mereka untuk bisa menjaga pandangan dan menjauh dari maksiat.
Sukakah kita jika kita menjadi sebab pemuda-pemuda tergelincir dalam kemaksiatan?
Menjadi penyebar fitnah dan perusak generasi?

Saudariku yang aku cintai,
Berat hati ini melihat hal seperti ini terjadi pada saudari kita…
Allah telah memuliakan kita dengan mensyari’atkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan membiarkan aurat terbuka? Secara tidak langsung, ini berarti membiarkan diri menjadi objek pemuas syahwat yang bisa dinikmati sembarang orang.

Allah telah memuliakan kita dengan mensyariatkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan keluar dari ketaatan?

-bersambung insya Allah-

Kisah Mahar Paling Mulia

Penyusun: Ummu Ishaq

Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Sulaim.

Siapakah Ummu Sulaim ?

Ummu Sulaim adalah ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal keilmuannya dalam masalah agama. Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar yang telah teruji keimanannya dan konsistensinya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menghasilkan kepergian suaminya dari sisinya. Namun, kesendiriannya mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Dan, apakah kalian tahu wahai saudariku???

Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan ketidaktertarikannya terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan kehadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahwa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i VI/114, Al Ishabah VIII/243 dan Al-Hilyah II/59 dan 60). Akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang teramat mulia, yaitu Islam.

Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mahar sebagai pemberian yang diberikan kepada istri berupa harta atau selainnya dengan sebab pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhai istri selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang perlu kalian tahu wahai saudariku, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Tsabit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang kita untuk bermahal-mahal dalam mahar, diantaranya dalam sabda beliau adalah: “Di antara kebaikan wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” (HR. Ahmad) dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.” (HR. Abu Dawud)

Demikianlah saudariku muslimah…
Semoga kisah ini menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan kita dan menjadi jalan untuk meluruskan pandangan kita yang mungkin keliru dalam memaknai mahar. Selain itu, semoga kisah ini menjadi salah satu motivator kita untuk lebih konsisten dengan keislaman kita. Wallahu Waliyyuttaufiq.

Maraji:

1. Panduan Lengkap Nikah dari “A” sampai “Z” (Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq),
2. Wanita-wanita Teladan Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi)

***

Artikel www.muslimah.or.id